Sejarah

index_sejarah_02

Sejarah KPSP Setia Kawan

Proses terbentuknya Koperasi ini berawal dari adanya peternakan sapi perah yang telah ada sejak tahun 1911 yang dilakukan oleh orang-orang Belanda yang berdomisili di Nongkojajar. Pada mulanya, tujuan pemeliharaan sapi perah ini untuk mencukupi kebutuhan susu segar bagi orang-orang Belanda.

Namun, lama-kelamaan usaha ini mulai berkembang dikalangan penduduk lokal dengan tujuan:

  • Penghasil Pupuk yang diperlukan dalam bertanam sayur-mayur
  • Sebagai simpanan dan diharapkan bisa berkembang biak

Nama-nama pendiri Koperasi adalah sebagai berikut:

  1. H.A.S.Soebagio
  2. H. Toekiran
  3. M.M.Moenawar
  4. H.Abdul Rachman
  5. H.Mochamad Tohir
  6. H.Mochamad Nur Astam
  7. Digdo Tanoyo

Pemanfaatan produksi susunya sendiri baru dirintis pada tahun 1959 oleh Bapak Atim yang saat itu menjabat sebagai mantri hewan dengan wilayah pemasaran ke Lawang dan Malang. Karena sifatnya yang mudah rusak, maka peternak sapi perah sering mengalami kesulitan. Apalagi peternak sapi perah di Nongkojajar umumnya para peternak merupakan pengusaha mixfarming sehingga tidak mungkin memasarkannya sendiri-sendiri.

Belajar dari kesulitan tersebut, di awal tahun 1960, para petani bergabung dan membentuk wadah bersama yaitu koperasi. Pada tahun 1962, terbentuklah Koperasi Karya yang berkedudukan di Wonosari dengan anggota diperkirakan sekitar 50-60 orang peternak. Pada tahun 1964, di Nongkojajar juga berdiri Koperasi Berdikari. Kedua koperasi ini sama-sama menampung dan memasarkan susu sapi.

sejarah

Pada tahun 1966, para tokoh di Nongkojajar merintis bergabungnya kedua koperasi tersebut dan akhirnya, pada Juli 1967, Koperasi Karya dan Koperasi Berdikari melebur menjadi Pusat Koperasi Lembu Perah (PKLP) Setia Kawan yang berkedudukan di Wonosari. Dalam Perkembangannya, PKLP Setia Kawan mempunyai 8 koperasi primer sebagai anggota, yaitu:

  • Trisnojoyo di desa Wonosari
  • Tirtorahayu di desa Punging
  • Mardisantosa di desa Andonosari
  • Karunia di desa Tutur
  • Ngudiharjo di desa Kayukebek
  • Mardi Rukun di desa Gendro
  • Sido Rukun di desa Tlogosari
  • Mardi Tresno di desa Balarang

Berdasarkan Himbauan Gubernur Jawa Timur (Soenandar Priyosoedarmo alm) untuk menyederhanakan struktur organisasi, maka pada tanggal 31 Desember 1977, Pengurus Pusat dan Primer dari desa-desa, sepakat mengadakan amalgasi (penggabungan) antara delapan primer menjadi satu yaitu Koperasi Peternakan Lembu Perah (KPLP) Setia Kawan.

Bertitik tolak dari pengalaman sulitnya pemasaran air susu segar, maka Koperasi dengan semua perangkatnya berupaya mencari dan meningkatkan pemasaran air susu segar. Pada tanggal 16 mei 1979, KPSP Setia Kawan memulai kerjasama dengan PT FSI di Waru Sidoarjo dengan mengirim susu sapi sebanyak 349 liter (kg).

Pada tanggal 7 Agustus 1987 dari hasil Rapat Anggota KUD Tani Makmur Nongkojajar memutuskan agar KUD Tani makmur menggabung ke Koperasi Setia Kawan dengan cara merger.

Untuk meningkatkan pelayanan yang lebih luas, maka pada tanggal 21 Februari 1990, Koperasi Peternakan Lembu Perah Setia Kawan merubah status menjadi KUD Setia Kawan. Akte Perubahan ini disyahkan oleh Departemen Koperasi dengan Badan Hukum Nomor 4077A/BH/II/1978.

Pada perkembangannya, bentuk usaha KUD membuat bidang usahanya tidak terkonsentrasi pada pengembangan susu segar. Akhirnya pada tahun 1996, KUD Setia Kawan merubah status kembali menjadi KPSP (Koperasi Peternakan Sapi Perah) Setia Kawan yang berkedudukan di Nongkojajar.

kpsp